Panduan Penulisan Soal UAS, USBN, UN SMP/MTS 2017/2018

Panduan Penulisan Soal UAS, USBN, UN SMP/MTS 2017/2018. Selamat datang, pada kesempatan ini kami akan membagikan file Buku Pedoman/Panduan  Penulisan Soal UAS, USBN, UN SMP/MTS tahun ajaran 2017/2018. Para guru sekalian, tentunya anda sudah sering membuat sebuah soal, karena seorang guru yang mengajar mereka juga dituntut untuk dapat membuat sebuah soal yang nantinya diujikan kepada peserta didiknya untuk mengevaluasi sampai sejauh manakah peserta didik dapat menyerap ilmu yang telah diajarkan gurunya. Jika mereka dapat mengerjakan soal yang telah diberikan oleh guru, berarti mereka dapat menangkap materi yang telah diajarkan di kelas. 


Download Pedoman Penulisan Soal UAS, USBN, UN SMP/MTS Terbaru 2017/2018. Di dalam artikel ini memang sengaja kami bagikan file Panduan penulisan soal SMP/MTS yang dapat didownload melalui link download yang telah disediakan,namun kami juga menyertakan informasi-informasi penunjang lainnya yang menjelaskan lebih detailnya mengenai sistematika penulisan soal, diantaranya soal Pilihan Ganda, Soal Uraian, dan bagaimana tipe soal HOTS berbagai level soal yang harus diberikan kepada siswa SMP/MTS untuk ujian akhir semester maupun Ujian Nasional (UN). 

Berikut ini merupakan cuplikan isi dari Panduan penulisan soal SMP/MTS terbaru 2017/2018.

PENDAHULUAN

Hasil belajar peserta didik dapat dinilai dengan tujuan yang berbeda. Penilaian dapat dilakukan untuk mengetahui materi yang belum dikuasai peserta didik, untuk melihat kemajuan peserta didik pada periode waktu tertentu, untuk pemberian nilai, untuk penempatan peserta didik, dan untuk penentuan kelulusan peserta didik. Penilaian tersebut secara umum dibedakan menjadi penilaian internal dan penilaian eksternal.
Penilaian internal adalah penilaian yang dilakukan oleh guru atau sekolah, sedangkan penilaian eksternal dilakukan oleh institusi di luar sekolah misalnya pemerintah atau lembaga penilaian yang diberi otoritas oleh pemerintah.
Penilaian eksternal dapat berupa ujian penentu kelulusan, tes seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikut, pemantauan ketercapaian kurikulum. Pada umumnya untuk penilaian eksternal digunakan tes tertulis sebagai prosedur atau instrumen penilaian yang baku (terstandar). Instrumen baku tersebut menjadi penting karena perlunya membandingkan hasil peserta dengan cara objektif. Sementara penilaian internal yang dilakukan oleh guru dengan tujuan memberikan umpan balik kepada peserta didik dan memperbaiki proses pembelajaran menggunakan instrumen yang kurang baku misalnya penilaian unjuk kerja, portofolio. Hal ini karena fokus pada individu masing-masing peserta didik, bukan untuk membandingkan antarpeserta didik. Ketika sekolah atau guru melakukan penilaian untuk menentukan kelulusan atau ketercapaian dari suatu standar maka penggunaan instrumen yang baku menjadi penting.
Pada saat ini umumnya tes prestasi belajar atau tes prestasi akademik menggunakan tes bentuk soal pilihan ganda (PG) karena saat ini tes PG dipandang sebagai tes objektif yang efisien digunakan untuk jumlah peserta besar. Untuk masa yang akan datang ketika skoring soal isian atau essay dapat dilakukan oleh mesin, bukan tidak mungkin soal untuk penilaian eksternal menggunakan soal isian atau essay.
Untuk menjamin kualitas soal tes yang terstandar, pengembangan tes melalui beberapa tahap. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menyusun tes terstandar adalah
(1) menentukan tujuan tes; (2) menentukan acuan yang akan dipakai (kriteria atau norma);
(3) membuat kisi-kisi;
(4) memilih soal-soal dari kumpulan soal yang sudah ada sesuai dengan kisi-kisinya. Apabila soal yang diambil merupakan soal baru, soal-soal tersebut harus melalui tahap telaah secara kualitatif, revisi, ujicoba, dan analisis hasil ujicoba sehingga diperoleh soal yang baik dari segi kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, pengadministrasian tes (pelaksanaan tes) juga dibuat standar. Untuk tes prestasi terstandar, soal-soal harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik. Dalam hal ini kurikulum atau standar kompetensi lulusan (SKL) yang sudah ditetapkan apabila tes tersebut akan digunakan untuk kelulusan. Proses penskorannya juga harus dilakukan terstandar terutama apabila ada soal berbentuk uraian sehingga hasil tes tersebut dapat dilihat keterbandingannya.
Untuk menjamin ketersediaan soal yang terstandar, perlu dikembangkan bank soal. Bank soal adalah kumpulan soal yang telah teridentifikasi karakteristiknya, misalnya tingkat kesukaran, daya beda, dan penyebaran pilihan jawaban (option). Pengembangan bank soal perlu dilakukan secara terus-menerus untuk memenuhi berbagai keperluan penggunaan.
Di Puspendik, pengembangan bank soal tes prestasi akademik merupakan salah satu kegiatan rutin. Kegiatan pengembangan bank soal ini dimulai dengan penulisan kisi-kisi, penulisan soal, telaah (analisis kualitatif), ujicoba, analisis kuantitatif, dan kalibrasi soal. Soal-soal yang terbukti bermutu secara kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan dan disimpan dalam bank soal.

Tahapan pengembangan bank soal meliputi:
1. Penyusunan kisi-kisi
Kisi-kisi digunakan sebagai pedoman bagi penulis soal agar diperoleh soal yang
sesuai dengan tujuan.
2. Penulisan soal
Soal ditulis oleh beberapa penulis soal berdasarkan kisi-kisi. Soal-soal yang
dihasilkan merupakan soal-soal mentah.
3. Review dan Revisi (Telaah dan Perbaikan)
Review adalah menelaah soal mentah secara kualitatif berdasarkan kaidah
penulisan soal oleh penelaah soal. Hasil review soal diklasifikasikan menjadi soal baik, soal kurang baik, dan soal ditolak. Soal baik langsung diterima, soal kurang baik perlu diperbaiki sehingga diperoleh soal yang baik, dan soal yang ditolak dikembalikan ke penulis.
4. Perakitan soal
Soal-soal baik selanjutnya dirakit menjadi beberapa paket soal untuk diujicobakan. Pada saat perakitan, dimasukkan beberapa soal yang berfungsi sebagai soal linking antarpaket. Soal-soal linking tersebut diambil dari bank soal yang telah memiliki karakteristik soal.
5. Ujicoba soal
Paket-paket soal diujicobakan kepada peserta didik yang sedang menempuh jenjang pendidikan yang sesuai dengan jenjang pendidikan pada tes tersebut.
Misalnya, soal-soal Bahasa Indonesia kelas IV diujikan kepada peserta didik kelas V di akhir tahun pelajaran atau kepada peserta didik kelas VI di awal tahun pelajaran. Peserta didik dalam menjawab soal-soal tes tersebut harus serius seolah-olah ujian yang sebenarnya walaupun pada ujicoba ini yang akan dilihat adalah kualitas soalnya bukan kompetensi peserta didik. Ujicoba soal digunakan untuk mengumpulkan data empirik tentang soal berupa jawaban-jawaban peserta didik terhadap soal.
6. Analisis kuantitatif
Data empirik dari hasil ujicoba dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan program analisis, baik klasik maupun modern. Program analisis secara klasik menggunakan iteman. Hasil iteman meliputi daya beda, tingkat kesukaran, penyebaran option, dan cek kunci. Selanjutnya, soal-soal tersebut dianalisis menggunakan teori tes modern (Item Response Theory). Program yang dapat digunakan antara lain Bigsteps, Winsteps, Quest, Conquestuest, RUMM. Dengan menggunakan analisis teori tes modern dapat diperoleh informasi kesesuaian soal dengan model (fit terhadap model), disamping tingkat kesukaran soal.
7. Seleksi soal
Berdasarkan hasil analisis soal, soal-soal dikelompokkan menjadi soal baik, soal perlu revisi, dan soal ditolak. Berdasarkan teori tes klasik soal-soal baik adalah soal yang memiliki daya beda tinggi, ditunjukkan dengan korelasi point biserial di atas 0,2 dan semua distraktor berfungsi. Berdasarkan teori tes modern, soal yang baik adalah soal yang sesuai (fit) dengan model, ditunjukan oleh statistik fit, seperti infit atau outfit. Soal-soal baik dimasukkan ke dalam bank soal. Soal dengan daya beda rendah dan terdapat distraktor yang tidak berfungsi perlu direvisi. Soal yang tidak mempunyai daya beda dan sebagian distraktor tidak berfungsi ditolak.

PENYUSUNAN KISI-KISI

1. Pengertian kisi-kisi
Kisi-kisi adalah suatu format berbentuk matriks berisi informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis atau merakit soal. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penggunaan tes. Penyusunan kisi-kisi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum penulisan soal. Bila beberapa penulis soal menggunakan satu kisi-kisi, akan dihasilkan soal-soal yang relatif sama (paralel) dari tingkat kedalaman dan cakupan materi yang ditanyakan.
2. Syarat kisi-kisi
Kisi-kisi tes prestasi akademik harus memenuhi persyaratan berikut:
1) Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan.
2) Komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami.
3) Indikator soal harus jelas dan dapat dibuat soalnya sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan.

3. Komponen kisi-kisi
Komponen-komponen yang diperlukan dalam sebuah kisi-kisi disesuaikan dengan tujuan tes. Komponen kisi-kisi terdiri atas komponen identitas dan komponen matriks. Komponen identitas diletakkan di atas komponen matriks.
Komponen identitas meliputi jenis/jenjang sekolah, program studi/jurusan, mata pelajaran, tahun ajaran, kurikulum yang diacu, alokasi waktu, jumlah soal, dan bentuk soal. Komponen-komponen matriks berisi kompetensi dasar yang diambil dari kurikulum, kelas dan semester, materi, indikator, level kognitif, dan nomor soal.

PENULISAN SOAL

Pengertian tes tertulis
Tes tertulis merupakan kumpulan soal-soal yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal, peserta didik tidak selalu harus merespon dalam bentuk tulisan, tetapi juga dapat dilakukan dalam bentuk lain, seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar.
Soal-soal pada tes tertulis dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu soal dengan memilih jawaban yang sudah disediakan (bentuk soal pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan) dan soal dengan memberikan jawaban secara tertulis (bentuk soal isian, jawaban singkat, dan uraian).
Dalam penyusunan soal tes tertulis, penulis soal harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan soal dari segi materi, konstruksi, dan bahasa.
A. Teknik Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda (PG)

Soal PG merupakan bentuk soal yang jawabannya dapat dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban (option) yang telah disediakan. Setiap soal PG terdiri atas pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Kunci jawaban merupakan jawaban benar atau paling benar, sedangkan pengecoh merupakan jawaban tidak benar, tetapi peserta didik yang tidak menguasai materi mungkinkan memilih pengecoh tersebut.
a. Keunggulan dan keterbatasan
Beberapa keunggulan dari bentuk soal PG adalah:
? dapat diskor dengan mudah, cepat, dan memiliki objektivitas yang tinggi;
? dapat mengukur berbagai tingkatan kognitif;
? mencakup ruang lingkup materi yang luas;
? tepat digunakan untuk ujian berskala besar yang hasilnya harus segera diumumkan, seperti ujian nasional, ujian akhir sekolah, dan ujian seleksi pegawai negeri.
Beberapa keterbatasan dari bentuk soal PG adalah:
? perlu waktu lama untuk menyusun soalnya;
? sulit membuat pengecoh yang homogen dan berfungsi;
? terdapat peluang untuk menebak kunci jawaban.
b. Kaidah Penulisan Soal Bentuk PG
Dalam menulis soal bentuk PG, penulis soal harus memperhatikan kaidah-kaidah sebagai berikut:
? Materi
1. Soal harus sesuai dengan indikator.
2. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
? Konstruksi
1. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
2. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
3. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar.
4. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
5. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
6. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, “Semua pilihan jawaban di atas salah” atau “Semua pilihan jawabandi atas benar”.
7. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut atau kronologisnya.
8. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
9. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
? Bahasa
1. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
2. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
3. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
4. Setiap pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.
Hal-hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam penulisan soal:
1. Soal tidak boleh menyinggung suku, agama, ras, antargolongan (SARA).
2. Soal tidak boleh bermuatan politik, pornografi, promosi produk komersil (iklan) atau instansi (nama sekolah, nama wilayah), kekerasan, dan bentuk lainnya yang dapat menimbulkan efek negatif atau hal-hal yang dapat menguntungkan atau merugikan kelompok tertentu.

Hal-hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam penulisan soal:
1. Soal tidak boleh menyinggung suku, agama, ras, antargolongan (SARA).
2. Soal tidak boleh bermuatan politik, pornografi, promosi produk komersil (iklan) atau instansi (nama sekolah, nama wilayah), kekerasan, dan bentuk lainnya yang dapat menimbulkan efek negatif atau hal-hal yang dapat menguntungkan atau merugikan kelompok tertentu.

CONTOH SOAL PILIHAN GANDA

KAIDAH 1
Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
Contoh soal yang kurang baik:
Saat ini umur Paman lima kali umur Adik. Lima tahun yang lalu, umur Paman lima belas kali umur Adik. Selisih umur mereka sekarang adalah ....
A.  5 tahun
B.  7 tahun
C.  28 tahun
D.  35 tahun
Kunci Jawaban : C
Penjelasan:
Option A dan B tidak logis karena selisih umur mereka seharusnya lebih dari 10 tahun. Pilihan jawaban yang berupa angka harus ada dasar perhitungannya sehingga logis.

Contoh soal yang lebih baik:
Saat ini umur Paman lima kali umur Adik. Lima tahun yang lalu, umur Paman lima belas kali umur Adik. Selisih umur mereka sekarang adalah ....
A.  36 tahun
B.  32 tahun
C.  28 tahun
D.  24 tahun
Kunci Jawaban : C

Contoh soal yang kurang baik:
Wakil dari Indonesia yang turut menandatangani Deklarasi Bangkok adalah ....
A.  Ali Alatas
B.  Mohamad Hatta
C.  Adam Malik
D.  Menteri Dalam Negeri
Kunci Jawaban: C
Penjelasan:
Pilihan jawaban d pada contoh soal di atas tidak homogen dari segi materi karena tidak menyebutkan tokohnya, demikian pula pilihan jawaban a kurang logis karena peristiwa ini terjadi pada tahun 1967.

Contoh soal yang lebih baik:
Wakil dari Indonesia yang turut menandatangani Deklarasi Bangkok adalah ....
A.  Mohamad Hatta
B.  Soekarno
C.  Adam Malik
E.  Ali Sastroamidjojo
Kunci Jawaban: C

Kaidah 2
Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
Contoh soal yang kurang baik:
Cermati kalimat-kalimat berikut!
Cara Menyalakan Komputer
Komputer merupakan salah satu perangkat elektronik yang sering digunakan untuk memudahkan  kita  dalam  bekerja.  Sebelum  digunakan,  komputer  harus  terlebih dahulu  dinyalakan.  Untuk  menyalakan  komputer  dengan  benar,  ikutilah  langkahlangkah berikut:
(1)  Buka penutup monitor, CPU, keyboard, dan printer.
(2)  Pastikan  saklar  terhubung  dengan  kabel  power  ke  stabilizer  atau  CPU komputer.
(3)  Tekan tombol power pada CPU dan tekan tombol power pada monitor.
(4)  Komputer akan melakukan booting, tunggu proses ini sampai selesai.
(5)  Setelah selesai booting, komputer siap untuk digunakan.
Simpulan yang tepat untuk teks prosedur tesebut adalah ...
A.  Memastikan saklar terhubung ke stabilizer dan  CPU adalah langkah utama yang harus diperhatikan.
B.  Komputer akan menyala dengan baik jika langkah-langkah pengoperasiannya dilakukan berurutan.
C.  Komputer dapat difungsikan untuk memudahkan pekerjaan setelah proses booting selesai.
D.  Perangkat komputer  dapat meringankan pekerjaan manusia jika digunakan bersama printer.
Kunci Jawaban: B dan C
Penjelasan:
Simpulan yang sesuai dengan teks tersebut terdapat pada dua pilihan jawaban, yakni B dan C.

Contoh soal yang lebih baik:
Cermati kalimat-kalimat berikut!
Cara Menghidupkan Komputer
Komputer merupakan salah satu perangkat elektronik yang sering digunakan untuk memudahkan  kita  dalam  bekerja.  Sebelum  digunakan,  komputer  harus  terlebih dahulu  dinyalakan.  Untuk  menyalakan  komputer  dengan  benar,  ikutilah  langkahlangkah berikut:
(1)  Buka penutup monitor, CPU, keyboard, dan printer.
(2)  Pastikan saklar terhubung dengan kabel power ke stabilizer atau CPU komputer.
(3)  Tekan tombol power pada CPU dan tekan tombol power pada monitor.
(4)  Komputer akan melakukan booting, tunggu proses ini sampai selesai.
(5)  Setelah selesai booting, komputer siap untuk digunakan.
Kalimat simpulan yang tepat untuk teks prosedur tesebut adalah ...
A.  Memastikan saklar terhubung ke stabilizer adalah langkah utama yang harus diperhatikan.
B.  Komputer akan menyala dengan baik jika langkah-langkah pengoperasiannya dilakukan berurutan.
C.  Komputer masih dapat berfungsi meskipun sakelar tidak terhubung dengan perangkat lainnya.
D.  Perangkat komputer dapat meringankan pekerjaan manusia jika  digunakan bersama printer.
Kunci Jawaban: B

KAIDAH 7
Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
Contoh soal yang kurang baik:
Berikut ini bukan merupakan sifat dari larutan asam, kecuali ....
A.  mengubah warna lakmus merah menjadi biru
B.  sulit bersenyawa dengan logam
C.  memiliki pH kurang dari 7
D.  tidak dapat menghantarkan arus listrik
Kunci Jawaban: C
Penjelasan:
Pokok soal  di  atas  menggunakan pernyataan  yang bersifat negatif  ganda,  yaitu  menggunakan  kata tidak dan kecuali sehingga menyulitkan peserta didik memahami pokok soal.

Contoh soal yang lebih baik:
Berikut ini yang merupakan sifat dari larutan asam adalah ....
A.  mengubah warna lakmus merah menjadi biru
B.  sulit bersenyawa dengan logam
C.  memiliki pH kurang dari 7
D.  tidak dapat menghantarkan arus listrik
Kunci Jawaban: C

KAIDAH 8
Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
Contoh soal yang kurang baik:
Kandungan bahan kimia detergen adalah senyawa Alkyl Benzena Sulfonat (ABS) yang memiliki sifat polar dan nonpolar. Kutub polar larut dalam air dan bersifat hidrofilik, sedangkan ujung hidrofobik bersifat nonpolar dan mudah larut dalam minyak atau lemak.
Peran ABS saat proses mencuci pakaian adalah ....
A.  membunuh kuman
B.  menguatkan serat
C.  melarutkan kotoran yang menempel pada bahan pakaian
D.  memberi wangi pakaian
Kunci Jawaban: C
Penjelasan:
Pilihan jawaban C paling panjang dan merupakan kunci jawaban. Peserta didik kemungkinan dapat menebak jawabannya dengan benar karena jawaban yang paling panjang
mengandung informasi yang paling lengkap.

Contoh soal yang lebih baik:
Kandungan bahan kimia detergen adalah senyawa Alkyl Benzena Sulfonat (ABS) yang memiliki sifat polar dan  nonpolar. Kutub polar larut  dalam air dan bersifat hidrofilik, sedangkan ujung hidrofobik bersifat nonpolar dan mudah larut dalam minyak atau lemak.
Peran ABS saat proses mencuci pakaian adalah ....
A.  membunuh kuman
B.  menguatkan serat
C.  melarutkan kotoran
D.  memberi wangi pakaian
Kunci Jawaban: C
------*dan seterusnya....

SOAL URAIAN
B.   Teknik Penulisan Soal Uraian
Soal  bentuk  uraian  adalah  suatu  soal  yang  menuntut  peserta  didik  untuk mengorganisasikan  gagasan-gagasan  atau  hal-hal  yang  telah  dipelajarinya.  Jawabannya dikemukakan dalam bentuk uraian tertulis.
1.  Keunggulan dan keterbatasan soal bentuk uraian
o  Keunggulan
Dapat mengukur kemampuan peserta didik dalam hal menyajikan jawaban terurai secara bebas, mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan-gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat peserta didik sendiri.
o  Keterbatasan
Jumlah materi atau pokok bahasan yang dapat ditanyakan relatif terbatas, waktu untuk memeriksa jawaban cukup lama, penskorannya relatif subjektif, dan tingkat reliabilitasnya relatif lebih rendah dibandingkan dengan soal bentuk pilihan ganda karena reliabilitas skor pada soal bentuk uraian sangat tergantung pada penskor tes.
Berdasarkan penskorannya soal bentuk uraian diklasifikasikan menjadi uraian objektif dan uraian non objektif.
❑   Soal bentuk uraian objektif adalah rumusan soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif.
❑   Soal bentuk uraian non  objektif  adalah rumusan soal yang menuntut sehimpunan jawaban  berupa  pengertian/konsep  menurut  pendapat  masing-masing  peserta didik sehingga penskorannya sukar dilakukan secara objektif (penskorannya dapat mengandung unsur subjektivitas).
Pada prinsipnya, perbedaan antara soal bentuk uraian objektif dan non  objektif terletak  pada  kepastian  penskorannya.Pada  soal  uraian  bentuk  objektif,  pedoman penskorannya berisi kunci jawaban yang lebih pasti. Setiap kata kunci diuraikan secara jelas dan diberi skor 1. Pada soal uraian bentuk non objektif, pedoman penskorannya berisi kriteria-kriteria dan setiap kriteria diskor dalam bentuk rentang skor.

2.  Kaidah penulisan soal uraian
Beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam penulisan soal bentuk uraian adalah
sebagai berikut:
❑   Materi
1.  Soal harus sesuai dengan indikator.
2.  Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas.
3.  Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran, misalnya soal Matematika harus menanyakan kompetensi Matematika, bukan kompetensi berbahasa atau yang lainnya.
4.  Isi  materi  yang  ditanyakan  sudah  sesuai  dengan  jenjang,  jenis  sekolah,  atau tingkat  kelas.  Tingkat  kompetensi  yang  diukur  harus  disesuaikan  dengan tingkatan  peserta didik,  misalnya  kompetensi  pada  jenjang  SMP  tidak  boleh ditanyakan pada jenjang SD, walaupun materinya sama, atau sebaliknya soal untuk tingkat SD tidak boleh ditanyakan pada jenjang SMP.
❑   Konstruksi
1.  Rumusan  kalimat  soal  atau  pertanyaan  harus  menggunakan  kata-kata  tanya atau  perintah  yang  menuntut  jawaban  terurai,  seperti:  mengapa,  uraikan, jelaskan,  bandingkan,  hubungkan,  tafsirkan,  buktikan,  hitunglah.  Jangan menggunakan  kata  tanya  yang  tidak  menuntut  jawaban  uraian,  misalnya:
siapa, di mana, kapan. Demikian juga kata-kata tanya yang hanya menuntut jawaban ya atau tidak.
2.  Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
3.  Buatlah  pedoman  penskoran  segera  setelah  soalnya  ditulis  dengan  cara menguraikan  komponen  yang  akan  dinilai  atau  kriteria  penskorannya, besar skor  bagi  setiap  komponen,  atau  rentang  skor  yang  dapat  diperoleh  untuk setiap kriteria dalam soal yang bersangkutan.
4.  Hal-hal lain yang menyertai soal seperti tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya harus disajikan dengan jelas, berfungsi, dan terbaca, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda dan juga harus bermakna.
❑   Bahasa
1.  Rumusan  butir  soal  menggunakan  bahasa  (kalimat  dan  kata-kata)  yang sederhana dan komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta didik.
2.  Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan peserta didik atau kelompok tertentu.
3.  Rumusan  soal  tidak  menggunakan  kata-kata/kalimat  yang  menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
4.  Butir soal menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5.  Rumusan soal sudah mempertimbangkan segi bahasa dan budaya.
6.  Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat.

3.  Penyusunan Pedoman Penskoran
Pedoman  penskoran  merupakan  panduan  atau  petunjuk  yang  menjelaskantentang  batasan  atau  kata-kata  kunci  atau  konsep  untuk  melakukan  penskoran terhadap  soal-soal  bentuk  uraian  objektif  dan  kemungkinan-kemungkinan  jawaban yang  diharapkan  atau  kriteria-kriteria  jawaban  yang  digunakan  untuk  melakukan penskoran  terhadap soal-soal uraian  non objektif.  Pedoman penskoran untuk setiap butir soal uraian harus disusun segera setelah penulisan soal.
4.  Kaidah Penulisan Pedoman Penskoran
❑   Uraian Objektif
1)  Tuliskan semua kemungkinan jawaban benar atau kata kunci jawaban dengan jelas untuk setiap nomor soal.
2)  Setiap kata kunci diberi skor 1 (satu).
3)  Apabila suatu pertanyaan mempunyai beberapa subpertanyaan, rincilah kata kunci  dari  jawaban  soal  tersebut  menjadi  beberapa  kata  kunci  subjawaban.
Kata-kata kunci ini dibuatkan skornya (masing-masing 1).
4)  Jumlahkan skor dari semua kata kunci yang telah ditetapkan pada soal. Jumlah skor ini disebut skor maksimum dari satu soal.
❑   Uraian Non objektif
1)  Tuliskan garis-garis besar jawaban sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan pedoman  atau  dasar  dalam  memberi  skor.  Kriteria  jawaban  disusun sedemikian  rupa  sehingga  pendapat/pandangan  pribadi  peserta  didik  yang berbeda dapat diskor menurut mutu uraian jawabannya.
2)  Tetapkan rentang skor untuk tiap garis besar jawaban. Besarnya rentang skor terendah 0 (nol), sedangkan rentang skor tertinggi ditentukan berdasarkan keadaan  jawaban  yang  dituntut  oleh  soal  itu  sendiri.  Semakin  kompleks jawaban, rentang skor semakin besar. Untuk memudahkan penskoran, setiap rentang  skor  diberi  rincian  berdasarkan  kualitas  jawaban,  misalnya  untuk rentang skor 0  -  3: jawaban tidak baik 0, agak  baik 1, baik 2, sangat baik 3. Kriteria  kualitas  jawaban  (baik  tidaknya  jawaban)  ditetapkan  oleh  penulis
soal.
3)  Jumlahkan  skor  tertinggi  dari  tiap-tiap  rentang  skor  yang  telah  ditetapkan. Jumlah skor dari beberapa kriteria ini disebut skor maksimum dari satu soal

-------- * dan seterusnya...

demikianlah tadi beberapa isi cuplikan dari file Panduan Penulisan Soal Ujian SMP/MTS 2017/2018. Anda bisa melihat isi selengkapnya dengan cara mendownload langsung pada link download yang tersedia di bawah ini, namun anda harus mengikuti proses download selanjutnya dan supaya bersabar sampai akhirnya file terdownload otomatis di komputer anda. 

Link Download: 
Panduan Penulisan Soal UAS, USBN, UN SMP/MTS 2017/2018 Panduan Penulisan Soal UAS, USBN, UN SMP/MTS 2017/2018 Reviewed by Niko Arisandi on 19:59:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.