Pidato Sambutan Upacara Hari Kebangkitan Nasional 2018 Menkominfo

Pidato Sambutan Harkitnas 2016

Pidato Sambutan Upacara Hari Kebangkitan Nasional 2018 oleh Menkominfo - Upacara Hari Kebangkitan Nasional tahun 2018 ini akan dilaksanakan tepatnya hari Senin tanggal 21 Mei 2018. Upacara ini dilaksanakan untuk memperingati kebangkitan perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang ditandai dengan kelahiran organisasi Boedi Oetomo. Dengan diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional ini, semoga seluruh rakyat Indonesia bisa mejadi bangsa yang tangguh, mandiri dan berkarakter. 

Namun, pada pelaksanaan upacara yang akan dilaksanakan tepatnya pada hari Sabtu tanggal 21 Mei besok, Kementrian Komunikasi dan Informatika telah mengeluarkan sambutan secara tertulis yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk Pidato dalam upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2018 besok ini. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak Pidato Sambutan Upacara Hari Kebangkitan Nasional dibawah ini:

Cuplikan Sambutan Menkominfo dalam Upacara Bendera Harkitnas ke-110 Tahun 2018:

SAMBUTAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI
PADA UPACARA BENDERA MEMPERINGATI HARI KEBANGKITAN NASIONAL KE-110 TAHUN 2018

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,

Saudari-saudara peserta upacara yang saya hormati,
Ketika rakyat berinisiatif untuk berjuang demi meraih kemerdekaan dengan membentuk berbagai perkumpulan, lebih dari seabad lalu, kita nyaris tak punya apa-apa. Kita hanya memiliki semangat dalam jiwa dan kesiapan mempertaruhkan nyawa. Namun sejarah kemudian membuktikan bahwa semangat dan komitmen itu saja telah cukup, asalkan kita bersatu dalam cita-cita yang sama: kemerdekaan bangsa.

Bersatu, adalah kata kunci ketika kita ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia namun pada saat yang sama tantangan yang mahakuat menghadang di depan. Boedi Oetomo memberi contoh bagaimana dengan berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal primordial akhirnya bisa mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan.

Boedi Oetomo menjadi salah satu penanda utama bahwa bangsa Indonesia untuk pertama kali menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan. Presiden Pertama dan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1952 mengatakan bahwa: "Pada hari itu kita mulai memasuki satu cara baru untuk melaksanakan satu 'idee', satu naluri pokok daripada bangsa Indonesia. Naluri pokok ingin merdeka, naluri pokok ingin hidup berharkat sebagai manusia dan sebagai bangsa. Cara baru itu ialah cara mengejar sesuatu maksud dengan alat organisasi politik, cara berjuang dengan perserikatan dan perhimpunan politik, cara berjuang dengan tenaga persatuan.”

Para pendahulu yang berkumpul dalam organisasi-organisasi seperti Boedi Oetama itu memberikan yang terbaik bagi terbentuknya bangsa melalui organisasi. Bukan pertamatama dengan memberikan harta atau senjata, melainkan dengan komitmen sepenuh jiwa raga. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana saat itu, mereka terus menghidup-hidupi api nasionalisme dalam diri masing-masing.

Seratus sepuluh tahun kemudian bangsa ini telah tumbuh menjadi bangsa yang besar dan maju, sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Meski belum sepenuhnya sempurna, rakyatnya telah menikmati hasil perjuangan para pahlawannya berupa meningkatnya perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Keringat dan darah pendahulu bangsa telah menjelma menjadi hamparan permadani perikehidupan yang nyaman dalam rengkuhan kelambu kemerdekaan.

Kalau sekarang bangsa ini punya hampir segala yang dibutuhkan, seharusnya kita terinspirasi bahwa dengan kondisi embrio bangsa seabad lalu yang berada dalam rundungan kepapaan pun, kita telah mampu menghasilkan energi yang dahsyat untuk membawa kepada kejayaan. Apalagi kini, ketika kita jauh lebih siap, tak berkekurangan dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Saudari-saudara sebangsa dan setanah-air,
....... dan seterusnya (selengkapnya bisa langsung download filenya)


Di bawah ini adalah contoh pidato / sambutan harkitnas tahun lalu.

PIDATO / SAMBUTAN PADA UPACARA BENDERA MEMPERINGATAI HARI KEBANGKITAN NASIONAL 

Assalamualaikum wr. wb
Selamat pagi dan salam sejahtera
Om swastiastu, 
Namo Budhaya,
Saudari-saudara peserta upacaya yang saya hormati, 
Saudari-saudara sebangsa dan se-Tanah Aird dimanapun berada.

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat ramhmat dan pertolongan-Nya, maka pada pagi hari ini, kita dapat mengikuti upacara bendera memperingati Hari kebangkitan Nasional ke-... , dalam keadaan sehat wal'afiat. Teriring doa kepada segenap warga bangsa di manapun berada, yang sedang mengikuti upacara ini, semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. 
Salah satu inspirasi yang bisa kita serap dari berdirinya Boedi Utomo sebagai sebuah organisasi modern pada tahun 1908 adalah munculnya sumber daya manusia indonesia yang terdidik, memiliki jiwa nasionalisme kebangsaan dan memiliki cita-cita mulia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Dengan tampilnya sumber daya manusia yang unggul inilah semangat kebangsaan nasional dimulai.
Perjuangan Boed Oetomo yang dipimpin oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan Dokter Soetomo tersebut kemudian dilanjutkan oleh kaum muda pada tahun 1928 yang kemudian melahirkan Soempah Pemoeda. Dan melalui perjuangan yang tak kenal lelah akhirnya kita dapat memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 1 Agustus 1945.

Saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air,
Sejak diproklamirkannya kemerdekaan, kita bangsa Indonesia telah berjanji dan berketepatan hati bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam kondisi dan keadaan apapun.
NKRI adalah negara demokrasi berlandaskan ideologi Pancasila, yang menjungjung tinggi nilai-nilai agama dan adat istiadat yang hidup di tengah masyarakat. wilayah NKRI terbentang luas dari Sabang hingg Merauke, terdiri dari 17.508 pulau, dihuni oleh penduduk sebesar 254,9 juta jiwa dengan 1.331 suku bangsa, 746 bahasa daerah, dengan garis pantai sepanjang 99.093 km persegi. Menjadi kewajiban seluruh komponen bangsa Indonesia secara konsisten untuk menjaga, melindungi dan memelihara tegaknya NKRI dari gangguan apapun, baik dari dalam maupun dari luar dengan cara menerapkan prinsip dan nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.
Komitmen terhadap NKRI ini penting saya tegaskan kembali pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 ini mengingat setelah sekian lama berdiri sebagai bangsa, ancaman dan tantangan akan keutuhan NKRI tidak selangkahpun surut. Bahkan melalui kemajuan teknologi digital, ancaman radikalisme dan terorisme, misalnya, mendapatkan medium baru untuk penyebaran paham dan praktiknya.
Selain itu, kita juga menghadapi permasalahan ketahanan bangsa secara kultural. Munculnya kekerasan dan pornograsi, misalnya, terutama yang terjadi pada generasi yang masih sangat belia, adalah satu dari beberapa permasalahan kultural utama bangsa ini yang akhir-akhir ini mengemuka dan memprihatinkan. Lagi-lagi, medium baru teknologi digital berperan penting dalam penyebara informasi, baik positif maupun negatif, secara cepat dan massif.
Ketika berbicara tentang lanskap dunia dalam konteks teknologi digital tersebut, kita juga menghadapi problem kaburnya batas-batas fisik antara domestik dan internasinal. Potentsi Pergaulan dan kerja sama saling menguntungkan akibat relasi dengan dunia Internasional tumbuh makin intens, tetapi juga sekaligus makin rendah terhadap penyusupan ancaman terhadap keutuhan NKRI dari luar wilayah negeri ini.

Saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air,
Tantangan-tantangan baru yang muncul di depan kita tersebut memiliki dua dimensi terpenting, yaitu kecepatan dan cakupan. Tentu kita tidak ingin kedodoran dalam menjaga NKRI akibat terlambat mengantisipasi kecepatan dan meluasnya anasir-anasir ancaman karena tak tahu bagaimana mengambil bersikap dalam konteks dunia yang sedang berubah ini. 
Oleh sebab itu saya memandang penting tema "Mengukir Makna Kebangkitan Nasional dengan mewujudkan Indonesia yang Bekerja Nyata, Mandiri dan Berkarakter" yang diangkat untuk peringatan hari Kebangkitan Nasional tahun ini. Dengan tema ini kita ingin menunjukkan bahwa tantangan apapun yang kita hadapi saat ini harus kita jawab dengan memfokuskan diri pada kerja nyata secara mandiri dan berkarakter.
Saya berpendapat bahwa ada penekanan pada dimensi internasional dalam tema tersebut. Kerja nyata kita, kemandirian kita, adan karakter kita semua terpusat pada pemahaman bahwa saat ini kita dihadapkan dalam kompetisi global. Persaingan bukan lagi muncul dari tetangga-tetangga di sekitar lingkungan kita saja, sebaliknya justru inilah saat paling tepat bagi kita untuk bahu-membahu bersama sesama anak bangsa untuk memenangkan persaingan-persaingan pada aras global, karena lawan tanding kita semakin hari semakin muncul dari seantero penjuru dunia. Sebagai satu kesatuan, mau tak mau harus bangkit untuk menjadi bangsa yang kompetitif dalam persaingan pada tingkat global tersebut. 
Pada aspek-aspek kerja nyata, kemandirian, dan karakter kitalah terletak kunci untuk memenangkannya.
Baca Juga: Pedoman Hari Kebangkitan Nasional tahun 2018
Kini bukan saatnya lagi mengedepankan hal-hal sekadar pengembangan wacana yang sifatnya seremonial dan tidak produktif. Kini saatnya bekerja nyata dan mandiri degan cara-cara baru penuh inisiatif, bukan hanya mempertahankan dan membenarkan cara-cara lama sebagaimana yang telah dipraktikkan selama ini. Hanyakarena telah menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan berarti sesuatu telah enar dan bermanfaat. Kita harus membiasakan yang benar dan bukan sekedar membenarkan yang biasa.
Untuk saudara-saudaraku yang diberi amanat Allah untuk mengemudikan jalannya bahtera pemerintahan, saya mengajak untuk menyelenggarakan proses-proses secara lebih efisien. Mari pangkas segala proses yang pelayanan yang berbelit-belit dan berkepanjangan tanpa alasan yang jelas. Mari bangun proses-proses yang lebih transparan. Mari berikan layanan tepat waktu ssuai jangka waktu yang telah dijanjikan.
Proklamator dan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pernah menekankan tentang pentingnya membangun karkater bangsa. Menurut beliau "membangun suatu negara, membangung ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya, membangun jiwa bangsa. Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin mencapai tujuannya".

Demikian juga tentang pentingnya kerja nyata kita, Bung Karno berpesan bahwa "Amal semua buat kepentingan semua. Keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan semua."
Semoga peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini juga memperbarui semangat Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Jika kita konsisten, saya yakin jalan kemandirian ini insya Allah akan membawa bangsa ini mengalami kebangkita yang selanjutnya, yaitu menjadi bangsa yang lebih jaya dan kkompetitif dalam kancah Internasional.

Saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air,
Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan. Semoga dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional  tahun ini, kinerja kita semakin baik dan semakin dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Teriring salam, doa penuh harapan kiranya kita semua senantiasa diberikan kemampuan untuk mempertahankan NKRI ini sampai kapan pun, demi kejayaan bangsa Indonesia. Selamat Hari Kebangkitan Nasional, Indonesia tetap Jaya!

Wassalamualaikum wr. wb.
Pidato Sambutan Upacara Hari Kebangkitan Nasional 2018 Menkominfo Pidato Sambutan Upacara Hari Kebangkitan Nasional 2018 Menkominfo Reviewed by Niko Arisandi on 08:50:00 Rating: 5

1 comment:

Powered by Blogger.